Untitled Document
CARI BERITA |
 |
|
 |
ARSIP BERITA |
 |
September, 2010 Agustus, 2010 Juli, 2010 Juni, 2010 Mei, 2010 April, 2010 Maret, 2010 Februari, 2010 Januari, 2010 Desember, 2009 November, 2009 Oktober, 2009
|
|
 |
 |
|
|
|
|
|
|
Halaman Berita
[ 05/11/2009, 08:01 WIB ] Distribusi Gas Pasca Konversi Belum Merata, Pemkab Minta Tambahan Kuota
 |
| Meski termasuk wilayah konversi gas namun permintaan minyak tanah di Pacitan masih tinggi. Pasalnya, distribusi elpiji belum merata ke seluruh wilayah yang ada. Akibatnya, warga kesulitan mendapatkan gas sementara minyak tanah sulit didapat. Kalaupun ada harganya melangit. Demikian dikeluhkan Sanimin (46), warga desa Kemuning Kecamatan Tegalombo saat sarasehan dengan Bupati Pacitan Sujono, Selasa (4/11/2009). | Belum siapnya warga menggunakan gas diakui Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Pacitan Heri Purwanto. Hal tersebut, kata Heri dapat dilihat dari masih tingginya permintaan minyak tanah dipasaran. Sesuai hukum ekonomi harga memang naik dari harga eceran tertinggi antara Rp 2.500 hingga Rp 3.500 per liter menjadi Rp 9.000 hingga Rp 10.000 per liter.
Heri menjelaskan, subsidi dan pengiriman dari depo Madiun memang telah dihentikan sejak 19 Oktober lalu. Untuk memenuhi kebutuhan warga, pihaknya kemudian minta tambahan distribusi minyak tanah ke depo Kediri. Jumlah yang diminta sama dengan jumlah distribusi minyak tanah bersubsidi sebelumnya/ yakni 15 ribu liter per hari. Bahkan saat-saat tertentu mencapai 30 ribu liter per hari. Ia berharap permintaan tersebut segera terealisasi.
Masih menurut Heri, wilayah yang masuk kategori kritis stok minyak tanah adalah kecamatan Kota Pacitan. Ini karena tidak tersedianya bahan bakar alternatif seperti kayu bakar.
Tingginya kebutuhan minyak tanah warga di kecamatan kota juga mendapat tanggapan dari pihak agen. Secara berkala, pemegang otoritas penjualan minyak tanah itu melakukan penjualan di sejumlah pasar. Stok yang dijual biasanya habis diserbu pembeli hanya dalam hitungan menit.
| | |
|